Sejarah

GEREJA  KRISTEN  PASUNDAN
JEMAAT  AWILIGAR

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani  tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan (1 Petrus 2 : 9 – 10)

Gereja Kristen Pasundan
Jemaat Awiligar
Jl. Awiligar No. 55 Bandung 40191

Gembala yang melayani :

1918 – 1995Pendeta dari GKP Jemaat Bandung
1995 – 2005Pdt. Hada Andriata, DPS
2005 – 2008Konsulen (Pdt. Deru U. Noron, S.Th., M.Min)
2008 – 2011Pdt. Chita Ruspiadi Baiin, S.Th
2011 – 2016Pdt. Budi Triadi Kaidun, S.Th
2016 – 2026Pdt. Stefanus N. Parinussa, M.Th, M.Si

Sejarah Keberadaan Jemaat

  1. Adanya orang Kristen di Awiligar sudah sejak 1918 diawali oleh Bapak Mintaredja dengan ketujuh putera puterinya. Bapak Mintaredja mendengar Injil dari Bapak Titus, NZV yang melayani Rumah Sakit Immanuel yang pada waktu itu masih di Jl. Kebonjati No. 108 Bandung (sekarang GKP Bandung). Bapak Titus merupakan pelanggan hasil bumi yang dijajakan oleh Bapak Mintaredja. Diawali dengan percakapan persahabatan antara ‘Pak Mantri’ dengan ‘Suplayer’ kumis kucing (sejenis tumbuhan untuk obat) yang dibawanya.
  2. Pada tanggal 12 April 1918 Bapak Mintaredja beserta keluarganya secara resmi menjadi pengikut Kristus dan dibaptis di GKP Bandung setelah sebelumnya mendapat pembinaan iman Kristen oleh Bapak Titus. Bapak Mintaredja dan keluarga merupakan cikal bakal jemaat GKP Awiligar. Sampai saat ini tanggal 12 April diperingati sebagai cikal bakal berdirinya GKP Jemaat Awiligar.
  3. Bapak Mintaredja berperawakan tinggi besar (seperti orang Belanda), dan biasa dipanggil Aki Enob. Sebagian putera puteri Bapak Mintaredja kembali ke keyakinan lama karena pernikahan dengan non-Kristen, kecuali dua orang cucu puteri dan satu cucu putera, yaitu Ibu Sayumi, Ibu Sarti, dan Bapak Mihad (sepupu Ibu Sayumi) yang masih tetap bertahan untuk tetap menjadi pengikut Kristus.
  4. Bapak Mihad memiliki anak, yakni Ibu Titi (menikah dengan Bapak Tarli yang juga buyut  Bapak Mintaredja dari Ibu Enceh) dan Ibu Anah (menikah dengan Bapak Ating). Bapak Mihad punya saudara yang berbeda Bapak yaitu Bapak Ali yang memiliki putra Bapak Sahwi Alyani (menikah dengan Ibu Mimin Rukmini, sepupu Bapak Mihad) dan Bapak Karmita Alyani (menikah dengan Ibu Atik)
  5. Ibu Sayumi (Bapak Adma) memiliki putera Bapak Edem (menikah dengan Ibu Miyatma) dan Bapak Edeng (menikah dengan Ibu Inoh)
  6. Ibu Sarti tidak memiliki putra putri
  7. Dari cucu Bapak Mintaredja yang laki-laki (Bapak Hamim Mintaredja) melahirkan Bapak Danu Mintaredja (menikah dengan Ibu Ratmanah)
  8. Bapak Karmita Alyani memiliki sahabat yang kemudian mengikut Kristus yaitu Bapak Koco (menikah dengan Ibu Sari)
  9. Sekalipun berbeda keyakinan, hubungan sesama anggota keluarga tetap baik dan saling menghormati dalam menjalankan ibadah masing-masing
  10. Ibu Sayumi memiliki dua putera yaitu Bapak Edem Wanaredja (alm) dan Bapak Edeng Wanaredja (alm). Sekembali dari pengungsian di Sumedang (± dua minggu) setelah perang kemerdekaan tahun 1950, putera Ibu Sayumi membuka usaha kerajinan keramik. Usaha ini membuka lapangan kerja bagi masyarakat di sekitarnya yang belum mengenal Kristus. Kabar baik diberitakan di pabrik. Beberapa pemuda, karyawan pabrik keramik, memberi diri dibaptis. Jadilah mereka cikal bakal jemaat setempat setelah berkeluarga, diantaranya adalah Keluarga Alyani (Keluarga Bapak Sahwi Alyani dan Keluarga Bapak Karmita Alyani). Keluarga Bapak Danu Mintaredja juga kembali bergabung sebagai keturunan langsung Keluarga Mintaredja. Selain itu Keluarga Bapak Koco yang dekat dengan Bapak Karmita. Dari keluarga Bapak Mihad masih ada yang setia mengikut Kristus yaitu kakak beradik Ibu Titi dan Ibu Anah yang membawa suami dan anak-anaknya untuk percaya kepada Kristus
  11. Kehidupan rohani sehari-hari dari jemaat yang sudah ada di Awiligar diselenggarakan oleh Ibu Sayumi dan kedua puteranya, Bapak Edem Wanaredja dan Bapak Edeng Wanaredja. Istilah beliau “Ya, sebisa-bisanya saja”, maklum mereka tidak sempat menginjak bangku SLTP sekalipun.
  12. Sementara itu, Ibu Sayumi yang demi Kristus rela diceraikan, sambil menjajakan dagangan keperluan dapur yang digendong pada sebuah bakul, dengan setia menceritakan Kabar Baik kepada siapa saja yang sudi mendengarnya. Tidaklah sia-sia usaha yang sederhana ini. Setiap tahunnya, saat merayakan Natal, tidak pernah sepi dari pengunjung orang sekitar. Orang-orang yang sudah dimenangkan untuk Kristus di Awiligar melalui Ibu Sayumi, tetap memiliki hubungan yang terjalin baik dengan masyarakat sekitar.
  13. Sejak tahun 1950-an Gereja Kristen Pasundan Jemaat Awiligar sudah dikenal oleh masyarakat Awiligar. Kerukunan hidup antar umat beragama pun terjalin dengan baik. Bahkan masyarakat sekitar gereja pernah mengumpulkan tanda tangan sebagai tanda persetujuan berdirinya gereja di Awiligar semasa Bapak Edem Wanaredja (alm) dan Bapak Karmita (alm) menjadi Pengurus Gereja.
  14. Pada tanggal 24 Desember 1963 diresmikan oleh Sinode GKP, rumah ibadah permanen seluas 8 m x 4 m, meninggalkan tempat yang lama berupa rumah panggung dimana Jemaat duduk di atas tikar. Di gedung yang baru ini Jemaat mulai duduk di bangku
  15. Tahun 1972 Pendeta Hada Andriata sudah mulai membantu pelayanan di Awiligar diantaranya dengan mengunjungi jemaat di daerah Awiligar dan Bojong Kacor. Pada waktu itu masih sawah dan kebun. Untuk sampai ke Awiligar harus menyebrangi sungai melalui jembatan yang dari pohon kawung. Saat ini dikenal dengan Jl. Cukang Kawung yang artinya jembatan dari batang pohon kawung
  16. Pada tahun 1976 Bapak Adrianus Djalimun memutuskan untuk pindah ke GKP Jemaat  Awiligar dari GKP Jemaat Bandung walaupun isteri dan anak-anaknya masih tetap aktif di GKP Jemaat Bandung. Bapak Adrianus Djalimun banyak membantu pelayanan di GKP Jemaat Awiligar dengan mengajar katekisasi, mengajar Sekolah Minggu, khotbah di kebaktian umum, juga pelayanan lainnya di keorganisasian jemaat Awiligar. Talentanya di bidang seni juga terus dikembangkan dengan menciptakan banyak lagu, melatih paduan suara, juga melatih angklung. Perangkat angklung dari GKP Jemaat Bandung di bawa serta ke GKP Jemaat Awiligar karena angklung tidak digunakan di GKP Jemaat Bandung
  17. Dinamika terjadi ketika, Tata Gereja GKP mengalami perubahan berdasarkan Sidang Raya Sinode GKP 1978 bahwa jemaat penuh harus memiliki minimal 50 orang anggota sidi (ketentuan sebelumnya 25 orang anggota sidi). GKP Jemaat Awiligar yang jumlah anggota sidinya tidak sampai 50 orang, akhirnya harus menjadi Pos Kebaktian dan berada di bawah koordinasi GKP Jemaat Bandung di Jl. Kebonjati No. 108 Bandung pada tahun 1978. Jemaat Awiligar dipimpin oleh GKP Jemaat Bandung sebatas koordinasi untuk Kebaktian Minggu, Kumpulan Rumah Tangga / Kebaktian Tengah Minggu, dan Katekisasi. Hal-hal teknis dilapangan sudah biasa dilaksanakan sendiri.
  18. Pada tanggal 24 Desember 1983 diresmikan gedung gereja baru seluas 13 m x 6 m oleh Sinode GKP di atas tanah hibah dari Ibu Sayumi. Lokasinya di seberang bangunan yang lama di atas tanah tempat rumah ibadah pertama yang berbentuk rumah panggung. Bentuknya sengaja seperti sebuah Sekolah Dasar (SD) supaya sesuai dengan rumah-rumah disekitarnya. Sederhana dan tidak mencolok
  19. Setelah memenuhi syarat ketentuan minimal anggota sidi menurut TG GKP (minimal 50 orang anggota sidi)  maka pada tanggal 4 September 1989, Pos Awiligar diresmikan oleh Sinode GKP sebagai jemaat mandiri kembali, menjadi GKP Jemaat Awiligar..
  20. Pentingnya pembinaan kepada pemuda dan remaja menjadi cikal bakal pembentukan Komisi Pemuda Remaja yang diprakarsai oleh Bapak Haris Irianto Priandy yang berasal dari GKP Jemaat Depok dan kuliah di Bandung. Bekerjasama dengan pemuda yang sudah ada dan aktif di pelayanan seperti Bapak Sukaryan Wanaredja (alm), Ibu Suliyati Wanaredja, Saudari Sugiani Wanaredja (alm), Saudara Ukan Sungkana Alyani, Bapak Anton Andrianus Maukar dan beberapa pemuda lainnya akhirnya kegiatan untuk pemuda remaja berjalan dengan baik seperti : PA Pemuda Remaja, olahraga, hiking, rekreasi bersama serta kegiatan-kegiatan lainnya.
  21. GKP Jemaat Awiligar sebagai jemaat yang sudah mandiri merindukan hadirnya seorang Gembala. Gembala yang diharapkan dapat membantu  jemaat untuk terus bertumbuh dalam iman  dan pertumbuhan dalam bidang lainnya. Pada tanggal 24 April 1995, GKP Jemaat Awiligar untuk pertamakalinya di pimpin oleh seorang Pendeta yaitu Pendeta Hada Andriata, DPS (Doctor of Pastoral Studies) yang waktu itu beliau sedang menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Pekerja Sinode Gereja Kristen Pasundan.
  22. Tahun 2002, gedung gereja (dulu masih 1 lantai) dirombak dan diperluas sehingga dapat  memuat 100 orang walau masih dianggap sementara karena target utamanya, ruang kebaktian akan dibangun di lantai dua.
  23. Pendeta Hada Andriata, DPS mengakhiri masa pelayanannya sebagai Pendeta Jemaat (Emeritasi) di GKP Jemaat Awiligar pada tanggal 20 Juni 2005. Namun sampai saat ini Pendeta Em. Hada Andriata, DPS tetap dilibatkan dalam pelayanan di GKP Jemaat Awiligar seperti : khotbah di Kebaktian Minggu, KRT dan kategorial serta kegiatan jemaat lainnya.
  24. Pada tanggal 6 November 2005 Saudari Iin Maryati, S.Si resmi menjadi Vikaris di GKP Jemaat Awiligar dan Pendeta Deru U. Noron, S.Th, M.Min (Saat itu sebagai Pendeta GKP Jemaat Purwakarta) menjadi Pendeta Konsulen GKP Jemaat Awiligar. Pada bulan Agustus 2007 Vikaris Iin Maryati, S.Si karena satu dan lain hal, mengundurkan diri sebagai Vikaris di GKP Jemaat Awiligar.
  25. Sejak tahun 2001 GKP Jemaat Awiligar sedang berupaya untuk merenovasi gedung gereja. Mengingat kebutuhan yang mendesak untuk pastori maka pembangunan ruang kebaktian di tunda dan dana yang terkumpul dialihkan untuk pembangunan pastori. Lokasi pastori sekitar 300 meter dari gedung gereja ke arah utara. Pembangunan Pastori telah selesai dilaksanakan berkat dukungan semua jemaat dan telah diresmikan pada tanggal 22 April 2007 bersamaan dengan peringatan ulang tahun ke-89 GKP Jemaat. Penandatanganan Prasasti Peresmian Pastori oleh Majelis Pekerja Sinode GKP dan Aparat Pemerintah Setempat.
  26. Dalam perkembangannya, GKP Jemaat Awiligar mengalami pertumbuhan, anggota GKP Jemaat Awiligar selain Keluarga Bapak Edem Wanaredja (alm) dan Keluarga Bapak Edeng Wanaredja (alm), juga banyak pendatang lain yang menetap di daerah Awiligar dan Bojong Kacor yang kemudian memutuskan untuk beribadah di GKP Jemaat Awiligar dan menjadi anggota GKP Jemaat Awiligar.
  27. Senin, 11 Februari 2008, Pendeta Chita R. Baiin, S.Th diresmikan sebagai Pendeta Jemaat di GKP Jemaat Awiligar yang ke-2. Dengan demikian berakhirlah masa pelayanan Pendeta Deru U. Noron, S.Th, M.Min sebagai Pendeta Konsulen di GKP Awiligar. Pendeta Chita R. Baiin, S.Th. mengakhiri masa pelayanannya di GKP Jemaat Awiligar pada tanggal 11 September 2011
  28.  Pada hari Minggu, 30 Oktober 2011, Pendeta Budi Triadi Kaidun, S.Th diresmikan sebagai Pendeta Jemaat ke-3 di GKP Jemaat Awiligar. Pada masa Pendeta Budi Triadi Kaidun, S.Th melayani di GKP Jemaat Awiligar dilakukan renovasi gedung (masih di lantai 1) yang selama ini digunakan untuk kebaktian setelah mendapat bantuan dana melalui Pembimas Kristen ditambah dengan dana dari jemaat. Ruang kebaktian yang awalnya menghadap ke utara di rombak dan jadi menghadap ke timur. Pendeta Budi Triadi Kaidun, S.Th, mengakhiri periode pelayanannya pada tanggal 9 Oktober  2016
  29. Di hari yang sama, yakni Minggu, 9 Oktober 2016 Pendeta Stefanus N. Parinussa, M.Th diresmikan sebagai Pendeta Jemaat ke-4 di GKP Jemaat Awiligar, dan periode pelayanan Pendeta Stefanus N. Parinussa, M.Th dilanjutkan ke periode kedua di GKP Jemaat Awiligar yang diresmikan oleh Majelis Sinode GKP pada hari Minggu, 12 Desember 2021.
  30. Pada masa pelayanan Pendeta Stefanus N. Parinussa, M.Th, dunia termasuk Indonesia mengalami bencana Covid-19, dimana terjadi pembatasan kegiatan termasuk Ibadah. Majelis Jemaat beserta dengan seluruh jemaat bersinergi bersama sehingga GKP Jemaat Awiligar dapat terus mengalami transformasi. Pada masa Covid-19 ini GKP Jemaat Awiligar mulai menggunakan teknologi seperti layanan live streaming, zoom meeting dalam pelayanannya.
  31. Pertolongan dan kasih Tuhan terjadi di masa Covid-19 (pembatasan kegiatan), karena  kerinduan untuk melanjutkan pembangunan gedung ibadah di lantai 2 dapat terwujud. Atas dukungan warga dan perangkat RT/RW Awiligar, Majelis Jemaat membentuk Panitia Pembangunan.
  32. Panitia Pembangunan bekerjasama dengan tim dari FSRD Universitas Kristen Maranatha merancang desain bangunan Gereja agar kontekstual dan memiliki ciri khas, yakni gereja angklung. Dalam perjalanan mulai tahun 2019, panitia pembangunan mengalami berbagai dinamika tetapi sungguh bersyukur, pembangunan Gedung Ibadah dan Konsistori lantai 2 selesai dan diresmikan pada hari Minggu Pentakosta, 5 Juni 2022. Di saat gereja lain mengalami kesulitan pasca Covid-19, GKP Jemaat Awiligar justru diberkati Tuhan luar biasa dengan selesainya pembangunan gedung lantai 2 sekaligus terpenuhinya impian dan harapan jemaat sejak awal tahun 2000-an.
  33. Transformasi GKP Jemaat Awiligar nampak bukan hanya dari gedung yang lebih fresh, representatif sekaligus memiliki ciri khas, melainkan dari pelayanan ibadah yakni musik yang memadukan etnik dan kontemporer, keterlibatan aktif kaum muda dan bahkan anak dalam tim musik, serta partisipasi seluruh bagian jemaat dalam pelayanan dan kesaksian.
  34. Di tahun 2025, tema pelayanan jemaat adalah Bergandengan Tangan Menjadi Gereja yang Menghadirkan Pemulihan dan Karya Pelayanan Dalam semangat Pembaharuan bagi Kemuliaan Tuhan (Roma 12:2). Tema ini menjadi spirit GKP Jemaat Awiligar untuk bergandengan tangan, sinergitas antara Pendeta Jemaat, Majelis Jemaat, PPJ, Komisi dan Tim Pelayanan beserta seluruh anggota jemaat dalam melayani dan memuliakan nama Tuhan.